Gambar Minggu ini




Membangun Moral Untuk Kemajuan Bangsa

Dahulu bangsa Indonesia dikenal karena moral rakyatnya yang berbudi pekerti luhur, santun dan beragama. Sayang citra baik ini tidak di jaga. Perlu diingat modal kemajuan suatu bangsa sangat didukung generasi yang cerdas, bijak dan bermoral.

Walau tidak dipungkiri ada upaya dari pemerintah untuk tetap membangun dan meningkatkan kecerdasan dan moral rakyatnya. Salah satunya dengan memberlakukan pembelajaran kewarganegaraan atau pancasila di sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Tapi kenapa kita sering mendengar banyak anak sekolah yang suka membolos, berkelahi, mencuri, menyimpan gambar porno bahkan hubungan sek diluar nikah? Adakah ada hal yang salah dalam pendidikan moral di sekolah kita



Penulis berpendapat kalau pemerintah khusunya instansi pendidikan hanya setengah-setengah memandang pentingnya pendidikan moral. Sepertinya pemerintah terkesan sibuk dengan menaik-naikan angka standar saja. Terlihat dengan tidak ikutnya mata pelajaran kewarganegaraan pada Ujian Nasional. Di sisi lain bahkan ada siswa yang masih dapat mengikuti ujian di dalam penjara.

Jangan salahkan siswa bila hanya mementingkan angka-angka Ujian Nasional saja dan berharap dapat melihat siswa mau menyambut gurunya dengan salam bahkan sampai mau membawakan buku atau tas ke ruang guru.

Mengingat pentingnya pendidikan moral maka hal tersebut secepatnya segera dibenahi. Perlu ada keterpaduan antara strategi dan model pembelajaran moral. Pembelajaran moral tidaklah dibatasi dengan banyaknya materi hapalan tapi aplikasi dan keterkinian. Pendidikan moral perlu mengaitkan dengan isu-isu moral yang sedang terjadi di masyarakat. Penyajian materi pendidikan moral hendaknya melibatkan segenap kalangan baik orang tua atau keluarga, lingkungan sosial, sekolah dan tentunya pemerintah.

Guru sebagai fasilitator di sekolah seyogyanya dapat memberikan pemahaman dan penghayatan nilai-nilai pendidikan moral bagi siswa. Guru dapat menjadi teladan yang dapat ditiru. Misalkan saja di dalam kelas saat pelajaran siswa dilarang mengaktifkan HP maka guru pun sama, demikian pula cara dalam menegur siswa yang melakukan kesalahan guru seharusnya dapat menggunakan adab dan sopan santun.

Pemerintah juga seyogyanya memberikan ruang gerak bagi pengembangan pengajaran. Guru tidak perlu di tuntut untuk menyelesaikan materi yang ada tapi sedapat mungkin siswa mampu menerima dan menerapkan pengajaran di lapangan. Standarisasi Ujian Nasional sebatas tingkat kemampuan kognitif saja namun untuk menentukan siswa lulus materi moral gurulah yang seharusnya menentukan. Apakah siswa telah memiliki moral yang baik atau perlu perbaikan (remidial). Jadi siswa lulus tidak sekadar lulus kognitif tapi juga moralnya. Sepertinya siswa yang suka mencotek, menipu dan mencuti sehingga ujian di lakukan di penjara tidaklah pantas lulus

0 komentar

Posting Komentar

Langganan: Posting Komentar (Atom)

Pengikut