Gambar Minggu ini




RUU BHP telah disahkan, masyarakat pendidik menolak mentah-mentah. Berbagai bentuk demontrasi dilakukan di sana-sini, namun apa, pemimpin pemerintah negeri ini tak bergeming. Mereka menutup telinga, tidak mau mendengar aspirasi masyarakat pendidik.
Dunia pendidikan Indonesia kini kembali kezaman kolonial (penjajahan). Pendidikan hanya akan dirasakan oleh mereka kalangan priyayi, sedangkan kalangan abangan hanya akan dijadikan budak.Inikah yang selalu digambar-gemborkan bahwa pendidikan untuk semua kalangan??

Ironis, model yang ada dalam RUU BHP justru mempersempit ruang bagi seluruh warga negara untuk mengenyam layanan pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Istilah privatisasi pasti kental dengan pendekatan modal. Sebagai pranata yang lekat dengan kepentingan publik, tidaklah pantas lembaga pendidikan berhitung-hitung dengan modal seperti layaknya lembaga bisnis.
Pemerintah seharusnya bercermin kembali benarkan tindakan ini. Andaikan saja mereka mau melihat kelapangan, saat ini sudah banyak universitas negeri yang sekedar mencari dana sebanyak-banyaknya tanpa memandang aut put mahasiswa. Universitas sudah membuka berbagai program bahkan ada program yang belum memiliki akreditasi dapat beroperasi di Universitas negeri. Lulusan mereka tidak dapat diterima di instansi perusahaan. ijazah mereka ditolak mentah-mentah. Aneh bukan??
Di sisi lain Universitas negeri saat ini juga sudah menjaring mahasiswa baru sebanyak-banyaknya tanpa memandang kapasitas ruang perkuliahan. Bahkan ada Universitas yang mendepak mahasiswanya yang sebetulnya lebih berhak untuk menempati ruangan kuliah hanya gara-gara membayar mereka lebih murah.
Bisa dibayangkan penerimaan mahasiswa baru tahun depan, universitas-universitas negeri akan menerima mahasiswa sebanyak-banyaknya dengan kualifikasi mereka mampu untuk membayar berbagai sarana prasarana kuliah. Bukan kualifikasi kemampuan akademik peserta didik.
Mahasiswa akan dijadikan objek mengeruk uang. Apapun kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa seperti Praktek, Penelitian, sampai evaluasi pembelajaran akan di nilai sebagai uang.
Kualitas dosen pun tentunya akan berpengaruh. Dengan prifatisasi pendidikan secara psikologi dosen akan memandang kebijakan rektor akan selalu berhubungan dengan bagaimana mendapatkan uang. Maka hasil pembelajaran kuliah pun dapat di ganti dengan uang. Pengalaman penulis pernah menelusuri untuk mendapatkan nilai delapan (8,00 =A) mahasiswa di suruh membanyar sekitar Rp 75 rb sampai Rp 120 ribu per SKS. Murah bukan jika dibandingkan dengan kuliah selama satu semester (biaya transport, jajan, dan waktu). Mahasiswa cukup datang ketika mau mengurus semester berikutnya. enak bukan.
Van Hoof & Van Wieringen (1986) mengatakan dalam suatu konferensi pendidikan tinggi Eropa, "Jika pemerintah suatu negara tidak secara serius memerhatikan arah dan pengelolaan pendidikan tinggi di negaranya, dapat dipastikan pembangunan ekonomi negara tersebut akan terhambat." Fenomena privatisasi itu sebagai pengingkaran atas ideologi pendidikan. Pendidikan tak lagi mencerahkan dan hanya terbuka bagi kalangan tertentu. Kesenjangan sosial bakal kian menganga.
RUU BHP itu dikhawatirkan akan melegitimasi keinginan pemerintah untuk meringkus kebebasan institusi penyelenggara pendidikan. Selain itu, RUU BHP juga akan menjadi pembenaran penghindaran tanggung jawab negara dalam pembiayaan pendidikan. Privatisasi itu memang berangkat dari konsep liberalisme dan kapitalisme, di mana model pelayanan sudah membidik segmen tertentu demi perputaran modal.
Konsekuensi logis dari privatisasi saat ini perguruan tinggi seakan berlomba membuka program baru atau menjalankan strategi penjaringan mahasiswa baru untuk mendatangkan dana. Saat ini saja perguruan tinggi negeri (PTN) sudah berlomba-lomba membuka program studi baru, seperti diploma dan ekstensi, yang nyata-nyata kian "membunuh" keberadaan perguruan tinggi swasta.
Haruskan pemerintah menutup mata??? Mau jadi apa bangsa ini kelak? Selamatkan pendidikan Indonesia!!!!!!!! Tolak BHP.

0 komentar

Posting Komentar

Langganan: Posting Komentar (Atom)

Pengikut