Gambar Minggu ini




Tulisan ini lahir dari adanya pertanyaan-pertanyaan yang sering dikeluhkan oleh beberapa rekan guru. Mereka mengatakan bahwa mengajar mereka seperti di sepelehkan oleh siswa. Siswa mereka terlihat malas, tidak bergairah, bahkan ada yang ngobrol sendiri atau sekedar main handphon. Penulis berusaha mencari akar permasalahan bahkan penulis mengadakan penelitian. penelitian dimulai dari menanyakan kepada siswa tentang perasaan ketika diajar oleh guru yang bersangkutan. Pertanyaan yang saya ajukan cukup sederhana yakni mengapa kalian terlihat lesu, malas ketika mengikuti pelajaran? Jawaban mereka pun beragam, ada yang menyatakan bahwa pelajaran sulit, gurunya galak, atau gurunya ngga asik. Jawaban seperti ini membuat saya tergerak untuk menerapkan metode baru yang disesuaikan dengan perkembangan kurikulum serta kondisi siswa dan tentunya sesuai perkembangan jaman. Lalu metode apa itu?

Akhrinya saya mencoba menerapkan satu metode pembelajaran yakni metode kontekstual. Metode ini benar-benar saya teliti dengan perbandingan metode lama (tradisional)yang lebih menekankan pada ceramah. Hasilnya luar biasa, kelas yang menggunakan metode kontekstual lebih memiliki nilai kognitif yang tinggi bahkan lebih berkesan dan aplikatif pada diri siswa. Lalu apa itu metode kontekstual dan bagaimana penerapannya? Berikut ulasan lengkapnya.
Metode kontekstual sudah lama dikembangkan oleh John Dewey pada tahun 1916,yaitu sebagai filosofi belajar yang menekankan pada pengembangan minat dan pengalaman siswa.Pendekatan kontekstual lahir di Indonesia karena kesadaran bahwa kelas-kelas di Indonesia tidak produktif. Sehari-hari kelas-kelas di sekolah diisi dengan “pemaksaan” terhadap siswa untuk belajar dengan cara menerima dan menghapal. Harus segera ada pilihan strategi pembelajaran yang lebih berpihak dan memberdayakan siswa.
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
Disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Komponen pembelajaran yang efektif meliputi:Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
Komunitas belajar/ masyarakat belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.Jadi siswa dinyatakan berhasil dalam pembelajaran tidak hanya diukur dari tingkat kelulusan siswa mengerjakan ujian nasional saja tapi lebih dari itu.
Menurut Depdiknas untuk penerapannya, pendekatan kontektual (CTL) memiliki tujuah komponen utama, yaitu konstruktivisme (constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat-belajar (Learning Community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic).
Jadi intinya dalam pendekatan ini guru harus dapat menerapkan ke tujuh komponen tersebut.
Penulis yakin dengan menerapkan metode pembelajaran ini siswa akan merasa lebih tertarik untuk belajar, pembelajaran akan menyenangkan dan tentunya guru tidak lagi di pusingkan dengan siswanya.Semoga

0 komentar

Posting Komentar

Langganan: Posting Komentar (Atom)

Pengikut